RAGAM HIAS UKIRAN TRADISIONAL MINANGKABAU
Bentuk motif ukiran Minangkabau pada umumnya bersumber kepada falsafah Alam Takambang Jadi Guruyang maksudnya adalah bahwa alam yang luas dapat dijadikan guru atau contoh.Pepatah menyebutkan :
Panakiak pisau sirawik,
Ambiak galah batang lintabuang,
Salodang ambiak ka niru,
Satitiak jadikan lauik,
Nan sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.
Petatah ini mengandung arti bahwa manusia selalu berusaha menyelidiki, membaca serta mempelajari ketentuan – ketentuan yang terdapat pada alam semesta (alam syariat), sehingga dari penyelidikan yang dilaksanakan berkali – kali akan diperoleh suatu kesimpulan yang dapat dijadikan guru atau iktibar tempat menggali pengetahuan yang berguna bagi manusia. (H. Idrus Hakimy Dt. R. Penghulu. 1997. 2) Jadi nenek moyang orang Minangkabau mempergunakan alam syariat seperti flora, fauna dan benda – benda alam lainnya sebagai tempat mempelajari pengetahuan yang berguna mengatur masyarakatnya dalam segala bidang.
Bentuk – bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistik atau naturalis tetapi bentuk tersebut digayakan sedemikian rupa sehingga menjadi motif- motif yang dekoratif, kadang – kadang sukar untuk dikenali sesuai dengan nama motifnya. Hal ini mungkin terjadi setelah berkembangnya agama Islam di Minangkabau.
Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ukir di Minangkabau pada mulanya dimulai dari corak yang realitis. Hal ini masih dapat kita lihat hiasan ukiran pada batu seperti menhir atau nisan yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten 50 Kota yang bermotif ular, burung dengan makna simbolisnya. Sedangkan pada seni ukir Minangkabau motif – motif realis ini sudah tidak ada lagi karena pada umumnya masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam dengan falsafah adatnya ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH.
Dalam pembentukan motif, pengukir mengambil gejala alam sebagai sumber inspirasi di samping itu juga bebas berkreasi sesuai dengan imajinasi dan proses kerja. Nama motif ukiran Minangkabau ada yang berasal dari nama tumbuh – tumbuhan, binatang, dan ada juga dari nama benda atau keadaan lainnya.Mengenai penempatan motif ukiran pada rumah gadang tergantung juga pada konstruksi bangunannya, ada motif untuk bidang besar dan ada untuk bidang kecil.Pada ukiran Minangkabau terdapat 3 jenis motif yaitu:
- Motif pengisibidang besar disebut juga motif dalam seperti kaluak paku, pucuak rabuang, kuciang tidua, jalo atau jarek.
- Motif pengisi bidang kecil disebut juga motif luar seperti itiak pulang patang, saik galamai, cacak kuku, ombak-ombak, ulek tantadu dll.
- Motif bidang besar yang lepas dan bebas fungsi disebut juga bintang, penempatannya bebas dan lepas dari ikatan ketentuan adat. (Ibenzani Usman 1985.182-185).
Contoh ukiran bidang besar
Beberapa motif ukiran pengisi bidang kecil
Pada ukiran Minangkabau terdapat dua pola yaitu galuang/relung dan ragam. Galuang/relung yaitu berupa lingkaranyang sambung bersambung sehingga membentuk relung ke arah pusat lingkaran atau ke luar lingkaran. Sedangkan ragam yaitu relung tersebut ditambah unsur lain seperti pola geometris. Pada relung tersebut terdapatlah gagang, daun, bunga, buah dan serpih.
Ukiran tersebut diberi pewarna cat dengan warna dasar hitam, ukirannya warna kuning, dan merah kemudian dalam perkembanganya terjadi variasi warna dengan munculnya warna biru, hijau, ungu dan lain-lain. Padaberapa bagian dari ukiran tersebut diberi juga hiasan dari kaca berbentuk bundar yang disebut mego.
Apabila kita perhatikan ukiran tradisional Minangkabau ini banyak juga dipengaruhi oleh budaya asing seperti Cina, antara lain pemakaian kaca pada ukiran yang oleh orang Cinadianggap sebagai lambang penolak bala.
Motif-motif ukiran tradisional Minangkabau
Semua motif ukiran tradisional Minangkabau bersumber dari lingkungan alam, baik yang berasalatau nama tumbuhan, binatang atau benda lainnya yang sebagian memiliki makna tersirat dalam kata-kata adatnya disamping sebagai hiasan dekoratif. Nama-nama motif ukiran tersebut adalah:
Nama Motif berasal dari nama Tumbuhan
- Aka badaun
- Aka bapilin
- Aka barayun
- Aka Cino
- Aka duo gagang
- Aka tajumbai
- Aka tangah duo gagang
- Aka taranang
- Aka sagagang
- Buah anau
- Buah kaladi
- Buah palo
- Buah pinang
- Bungo anau
- Bungo cengkeh
- Bungo duo tangkai
- Bungo kacubuang
- Bungo kundua/labu
- Bungo kunyit
- Bungo lado
- Bungo mangarang buah
- Bungo mantimun
- Bungo panca matoari
- Bungo pitulo
- Bungo sanopati
- Bungo taratai
- Daun bodi
- Daun bodi jo kipeh cino
- Daun puluik-puluik
- Daun sakek
- Daun sirieh
- Daun sitawa sidingin
- Ilalang rabah
- Kaluak babungo
- Kaluak paku basiku
- Kaluak paku
- Kaluak randai
- Kapeh kambang
- Lumuik hanyuik
- Paga pudiang
- Pisang sasikek
- Pimpiang babungo
- Pucuak rabuang
- Rueh tabu
- Sikambang manih
- Sirieh gadang
- Sirieh naiak
- Siriah bungo lado
- Salimpat
- Tampuakmanggih
- Alang babega
- Ayam macotok dalam kandang
- Bada barayun
- Bada mudiak
- Barabah mandi
- Bondo basarang
- Gajah badorong
- Gulinggang lalok
- Harimau dalam parangkok
- Harimau paunyi koto
- Itiak pulang patang
- Kaluang bagayuik
- Kijang balari
- Kuciang lalok
- Kuciang manyusuan anak
- Kudo manyipak
- Kuku balang
- Kaluak udang
- Kumbang jati
- Kunang-kunang
- Labah bagayuik
- Labah mangirok
- Limpapeh
- Paruah anggang
- Pipik sinanduang
- Pusaran ulek bataduah
- Puyu baradai
- Ramo-ramo
- Ramo-ramo sikumbang jati
- Ruso balari dalam ransang
- Samuik baririang
- Siku kalalawa
- Singo mandongkak
- Sipasan
- Tantadu bararak
- Tantadu manyasok bungo
- Talua buruang
- Tiuang katabang
- Tupai bagaluik
- Tupai malompek
- Tupai managun
- Ula gerang
Nama motif berasal dari nama benda, manusia dan lain-lain
- Aia bapeson
- Ampiang taserak
- Ati-ati
- Ati-ati basandiang
- Basandiang duduak
- Biku-biku
- Bulan kaabih
- Carano kanso
- Carano puti bungsu
- Dama tirih
- Dayang panginang
- Gamak Alu
- Jalo taserak
- Jambua cawek rang pitalah
- Jarek takambang
- Jarek tatahan
- Kaluak baralun
- Kaitan rantai
- Kaluih baragiah
- Kambang lumbuang sitinjau lauik
- Kiliran taji
- Kipeh Cino
- Lapieh Ampek
- Lapieh batang jarami
- Lapieh duo
- Lapieh pandan
- Lapieh tali
- Lapieh tigo
- Maniek jarang
- Ombak-ombak
- Ombak-ombak jo pitih-pitih
- Pesong aia bubuih
- Puti ambun dewi
- Puti bungo intan
- Puti takuruang
- Rajo sahari
- Rajo tigo selo
- Saik galamai
- Sajamba makan
- Saluak laka
- Saluak laka bagarih
- Siganjua lalai
- Sikambang manih
- Siku-siku jo bungo lado
- Saluik katayo
- Simajo lelo
- Sirauik jatuah
- Subang-subang
- Tampuruang hanyuik
- Tangguak lamah
- Tari sewah taranik
- Tirai anjilu
- Tirai babungo
- Tirai bungo lado
- Tirai bungo intan
BEBERAPA MOTIF UKIRAN TRADISIONAL MINANGKABAU DAN NILAI YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA
- 1. AKA CINO
Aka dalam bahasa Minangkabau dapat berarti akar tumbuhan yaitu sejenis akar yang merambat dan dapat pula berarti akal yaitu daya pikir. Sedangkan Cino berasal dari kata Cina yaitu nama bangsa dan negara di Asia Timur yang penduduknya suka merantau. Bangsa Cina yang suka merantau ke negara lain termasuk orang yang kuat gigih dan ulet karena hidup dirantau orang membutuhkan pikiran untuk mencapai tujuanhidup. Dengan akal pikirnya mereka berjuang untuk hidup, apakah sebagai pedagang maupun pekerja.
Sedangkan aka sebagai akar tumbuhan yang merambat, saling berkaitan dan bersambung. Oleh sebab itu sifat akal manusia sering juga diungkapkan seperti akar kayu yaitu berupa suluran atau kaluak yang saling bersambung.
Motif ini melambangkan suatu kedinamisan hidup yang gigih dan ulet dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Motif aka cino sagagang
Motif aka cino sagang ini termasuk motif ukiran pengisi pengisi papan bidang kecil pada rumah gadang di Minangkabau, seperti pada dinding ari, antara papan sakapiang (papan bidang besar) bandua, bagian atas pintu. Bentuk yang sederhana dari motif aka cinojuga banyak menghiasi benda/peralatan sehari-hari seperti labu cakiak.
- 2. KALUAK PAKU KACANG BALIMBIANG
Paku (pakis) yaitu sejenis tumbuhanyang banyak hidup di tanah basah. Paku atau pakis selain dapatdijadikan sayur atau gulai juga sebagai tanaman hias. Kaluak paku adalah bagian dari tanaman paku yang masih muda yang bagian ujungnya melingkar padat. Bentuk relung paku yang indah inilah yang dijadikan motif ukiran dan merupakan motif yang paling banyak dipakai dalam ukiran Minangkanau. Motif ukiran kaluak paku kacang balimbiang ini melambangkan suatu tanggung jawab yang sempurna dengan kata-kata adatnya adalah:
Kaluak paku kacang balimbiang
Tampuruang lenggang-lenggangkan
Baok manurun ka saruaso
Tanam sirieh jo ureknyo
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang dipatenggangkan
Tenggang nagari jan binaso
Tenggang sarato jo adatnya
Ukiran ini melambangkantanggungjawab seorang laki-laki Minang yang memiliki dua fungsi yaitu sebagai ayah dari anak-anaknya dan sebagai mamak dari kemenakannya. Ia harus membimbing dan mendidik anak dan kemenakanya sehingga menjadi orang yang berguna dan bertanggungjawab terhadap keluarga, kaum dan nagari. Motif kaluak paku kacang balimbiang termasuk pengisi bidang besar.
- 3. LUMUIK ANYUIK
Lumuik (lumut) sejenis tumbuhan yang hidup di air dan biasanya bergantung pada benda lain seperti pada batu atau batang kayu. Apabila lumut ini lepas dari tempat ia bergantung maka ia akan hanyut dibawa arus air yang mengalir, sebagaimana kata adatnya:
Nan bak lumuik hanyuik
Tampek bagantuang indak ado
Urang mamacik indak amuah
Motif ukiran lumuik hanyuik ini menggambarkan kehidupan seseorang yang tidak disukai oleh masyarakat lingkungannya yang biasanya dikiaskan pada orang yang durhaka, melanggar norma hukum, berbuat salah sehingga dikucilkan oleh masyarakat. Tidak ada yang mau menolongnya.
Motif ini merupakan peringatan kepada masyarakat untuk tidak berbuat yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.Pengertian lain dari motif lumuik anyuik ini adalah orang yang mudah menyesuaikan diri dimana mereka berada. Tetapi pengertian ini memberi kesan negatif yaitu orang tidak berpendirian. Orang yang mudah menyesuaikan diri dengan tidak berpendirian akan mudah dipengaruhi oleh orang lain dan menjadi permainan orang lain.Motif ini juga termasuk pengisi bidang besar pada rumah gadang.
- 4. PUCUAK RABUANG
Pucuak rabuang (pucuk bambu) yaitu sejenis bambu muda yang masih kuncup belum memiliki daun. Bambu yang masih muda ini disebut rabuang yang dapat dijadikan bahan makanan atau sayur yang digulai dengan daging. Di Minangkabau gulai daging dengan rebung ini termasuk makanan adat yang sering disajikan pada waktu upacara adat. Sedangkan bambu yang sudah besar disebut dengan batang batuang dapat dijadikan bahan bangunan dan peralatan rumah tangga.
Motif pucuak rabuang merupakan anjuran kepada semua orang untuk dapat berguna seumur hidup, sebagaimana bunyi pepatah adat ketek baguno, gadang tapakai. Bambu yang muda disebut rabuang tersebut dapat dijadikan bahan makanan sedangkan bambu yang telah tua (batuang) dapat dijadikan bahan bangunan atau peralatan rumah tangga. Bentuk rabuang yang masih muda yang mencuat lurus ke atas merupakan suatu perlambangan bagi yang muda untuk menuntut ilmu pengetahuan dan meraih cita-cita. Apabila telah besar ujung bambu tersebut mulai merunduk ke bawah yang bermakna apabila telah berilmu tidaklah sombong.
Selain pada ukiran, bentuk pucuak rabuang ini juga terlihat pada bentuk gonjong tumah adat dengan kata adatnya adalah:
Gonjongnyo rabuang mambacuik
antiang-antiang disemba buruang
tarawang maancang matoari
calekak padang basentak
tarali gadai rang balariak
bumbungan burak ka tabang
tuturan alang babega
paran gamba ula ngiang
Motif ukiran pucuak rabuang
Motif ini melambangkan suatu kehidupan yang dinamis, memiliki cita-cita yang tinggi serta berguna bagi masyarakat. Motif pucuak rabuang ini terdiri atas beberapa bentuk variasi, ada sebagai pengisi bidang besar dan bidang kecil yang juga banyak diterapkan pada benda lainnya seperti tongkat.
- 5. SIKAMBANG MANIH
Si kambang manih diumpamakan pada bunga yang sedang mekar yang kelihatan sangat bagus. Motif ini pada rumah adat terdapat pada dinding tepi atau papan banyak dan jendela. Motif ini melambangkan keramah-tamahan, sopan santun dan suka/senang menerima tamu, juga termasuk motif yang banyak variasinya dan merupakan motif pengisi bidang besar.
- 6. SIRIAH GADANG
Siriah (sirih) sejenis tumbuh-tumbuhan yang merambat yang daunnya dapat dimakan, dilengkapi dengan kapur sirih, pinang dan gambir. Sirih pinang merupakan pelengkap secara adat setiap membuka pertemuan, penyambutan tamu yang disuguhi dengan carano.
Siriah gadang merupakan sebutan untuk suatu helat besar yang dilaksanakan 7 hari 7 malam yang disertai dengan berbagai macam kesenian rakyat seperti randai, tari, talempong silat dll. Helat besar ini disebut juga lambang urek yang artinya perjamuan itu diselenggarakan secara besar-besaran dengan memotong kerbau/sapi sebagai mana yang dimaksud oleh ungkapan:
Panggilan sisiak palapahan
Dipanggia sampai tabao
Pakai tombak pakai gandalo
Sarato padang janawibaapian
Dikambang payauang ubua-ubua
Tapancang marawa dihalaman
Langkok jo gong jo talempong
Di lapeh jo latuih badia
Bapakaian adat salangkoknyo.
Motif siriah gadang ini melambangkan suatu kegembiraan, persahabatan dan persatuan.
Sakabrek bak siriah
Salubang bak tabu
Sarumpun bak sarai
Motif siriah gadang termasuk juga pengisi bidang besar
- 7. BADA MUDIAK
Bada adalah sejenis ikan kecil atau teri. Bada mudiak adalah ikan teri yang menghadap ke hulu sungai. Bada atau ikan teri yang kecil-kecil tersebut bila kita perhatikan kehidupannya bergerombolan (berkelompok) yang menghadap ke hulu sungai dalam suatu barisan yang teratur dan rapi. Apabila seekor terkejut dan lari ke hulu/depan maka yang lainpun mengkutinya. Dalam kata adatnya adalah:
Bak bada sabondoang mudiak
Bak punai tabang bakawan
Motif ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang teratur, selalu seiya sekata sehilir semudik dan bersatu/kompak sehingga dapat mewujudkan kemajuan yang menjadi tujuan hidup dalam keluarga dan masyarakat.
Selain terdapat pada bangunan rumah gadang juga diukirkan pada benda-benda yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menambah keindahan benda tsb.
- 8. ITIAK PULANG PATANG
Itiak (itik) sejenis unggas yang banyak dipelihara orang dan hidup berkelompok. Itiak pulang patang menggambarkan barisan itik berjalan melalui pematang sawah menuju ke kandangnya. Kalau kita lihat segerombolan itik berjalan ia akan menurut induk rombongannya, apabila ada diantara mereka yang jatuh maka yang lain pun akan menurut, dalam kata adat disebutkan bak itiak jatuah ka tabiang (seperti itik jatuh ke tebing).
Motif itiak pulang patang ini melambangkan kesepakatan, seia sekata dan persatuan yang kokoh. Motif ini merupakan pengisi bidang kecil yang juga banyak menghiasi benda lainnya.
- 9. LIMPAPEH
Limpapeh merupakan tafsiran wanita Minang yang mendiami rumah gadang. Menurut adat Minangkabau, kaum ibu mempunyai fungsi penting dalam menumbuhsuburkan kehidupan budi pekerti luhur dalam masyarakat. Budi luhur tersebut merupakan salah satu sendi dari pergaulan hidup yang bahagia, aman dan tentram lahir batin. Dalam fatwa adat disebutkan bahwa:
Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang
umbun puro pegangan kunci
hiasan didalam kampuang
sumarak dalam nagari
nan gadang basa batuah
kok iduik tampek banasa
akalu mati tampek baniat
ka undang-undang ka madinah
ka payuang panji ka sarugo
Jadi kaum wanita diibaratkan dengan limpapeh rumah nan gadang adalah orang yang berbudi, sopan santun, tau ereang dengan gendeang, pandai menjaga diri serta berperan dalam pembinaan pendidikan anak. Kaum wanita merupakan tiang kokoh dalam suatu rumah tangga dan tiang nagari yang menentukan baik buruknya kehidupan dalam masyarakat. Motif limpapeh termasuk motif pengisi bidang besar.
- 10. KUCIANG LALOK
Kuciang (kucing) sejenis binatang peliharaan yang hidup di sekitar kita. Hampir setiap rumah di Minangkabau ini memelihara kucing sebagai binatang kesayangan. Salah satu sifat kucing yang tidak baik ditiru oleh manusia adalah apabila kucing telah kenyang makan maka ia akan tidur saja dan tidak mau berusaha untuk mencari makan.
Motif kuciang lalok ini melambangkan sikap seorang yang pemalas yang tidak mau berusaha melakukan aktifitas sehari-hari baik untuk kepentingan dirinya sendiri maupun untuk masyarakat. Sifat ini tidak disukai oleh masyarakat Minangkabau yang suka bekerja dan ulet. Jadi lambang dari motif ini adalah berupa peringatan supaya jangan malas dan berusahalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagaimana pantun Minangkabau mengatakan:
Batiah bagantuang ka pao
pao tumpuan paruik
rasaki bagantuang ka usaho
usaho tumpuan hiduik
- 11. RAMO – RAMO SIKUMBANG JATI
Ramo-ramo yaitu sejenis kupu-kupu yang sering hinggap dibunga. Si kumbang jati adalah sejenis kumbang kecil berwarna hijau mengkilat yang hidup di pohon. Kedua binatang ini memiliki warna yang indah. Kita juga sering menyebut warna hijau kumbang jati yang maksudnya adalah warna yang menyerupai kumbang jati. Kedua binatang ini tidak merusak baik terhadap dirinya maupun terhadap kehidupan manusia. Kata adatnya adalah:
Ramo-ramo sikumbamg jati
Katik endah pulang bakudo
Patah tumbuh hilang baganti
Pusako lamo baitu juo
Maksud dari pepatah petitih ini adalah bahwa adat Minangkabau itu “tetap dan juga berubah”. Maksudnya prinsip adat Minangkabau itu tetap tidak berubah terutama tentang ajarannya, namun akan terjadi variasi dalam penerapannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang dilaluinya. Dengan perkataan lain adat nan babuhua mati tidak akan pernah mengalami perubahan, sedangkan adat nan babuhua sentak akan selalu mengalami perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dilaluinya.
Ukiran inimenggambarkan tentang pusaka Minangkabau yang tidak berubah dari dahulu hingga sekarang walaupun orang yang menjalankan pusaka adat tersebut sudah berganti dari satu generasi ke generai berikutnya. Motif ini juga termasuk motif pengisi bidang besar.
- 12. RUSO BALARI DALAM RANSANG
Ruso sejenis binatang yang hidup dihutan, memiliki tanduk bercabang dikepalanya. Ransang adalah semak belukar dan patahan rerantingan kayu. Pengertian dari motif ini adalah bagaimana susahnya seekor rusa untuk dapat menyelamatkan diri atau keluar dari ransang yang menghambat. Hal ini diibaratkan dengan seseorang dalam mencapai tujuannya menghadapi berbagai hambatan dan rintangan dengan kemauan yang kuat dan tetap menyadari/memahami kondisi dirinya sendiri.
- 13. AIA BAPESONG
Aia bapesong adalah arus air yang mengalir deras kemudian terhalang/terhambat oleh sesuatu sehingga air tersebut berputar/bapesong untuk sementara dan kemudian mengalir lagi. Maksud dari motif ukiran ini adalah suatu pekerjaan yang dilakukan kemudian tiba-tiba mendapat halangan/rintangan sehingga terganggu untuk sementara waktu kemudian berfikir dan berusaha sehingga ditemukan jalan keluarnya. Jadi aia bapesong ini melambangkan suatu pemikiran mencari jalan keluar untuk pemecahan masalah dan melambangkan kehidupan yang dinamis dan tidak putus asa.
- 14. CACAK KUKU
Cacak kuku adalah suatu cubitan yang meninggalkan bekas kuku tersebut padakulit. Bentuk motif ukiran cacak kuku ini berbentuk lengkung seperti halnya jejak kuku pada kulit. Dalam ungkapan disebutkan kalau urang ka dipiciak cacakan kuku dulu ka diri surang, sakik di awak sakik pulo di urang (kalau mau mencubit cubit dulu diri kita bila terasa sakit tentu orang lainpun akan merasa sakit).
Hukum piciak jangek adalah sakik dek awak sakik dek urang, artinya apabila kulit kita merasa sakit kalau dicubit, urang lainpun akan merasa sakit kalau kulitnya dicubit. Oleh karena itu janganlah menyakiti orang lain dengan cara dan bentuk apapun baik jiwa maupun badannya.
Pengertian dari motif ini adalah untuk berbuat baik kepada siapa saja sesama manusia. Bila kita berniat jahat kpada orang lain suatu saat kita akan mendapat balasan. Oleh sebab itu dianjurkan untuk berbuat baik sesama manusia dan saling tolong menolong. Motif cacak kuku biasanya pengisi bidang kecil.
- 15. CARANO KANSO
Carano kanso adalah sejenis wadah tempat meletakan sirih pinang selengkapnya terbuat dari logam seperti kuningan atau loyang. Motif carano kanso dalam ukiran Minangkabau melambangkan suatu penghormatan kepada tamu. Bila mengundang orang atau bertamu sebelum memulai pembicaraan terlebih dahulu disuguhi dengan sirih pinang dalam carano.
Dalam mengundang orang atau sahabat untuk menghadiri helat dikiaskan dengan ungkapansakato duo kato, diimbau mano nan patuik, dipanggia mano nan taalua, jiko dakek diimbau dengan carano jiko jauah surek dilayangkan.Motif carano kanso merupakan motif pengisi bidang besar.
- 16. JALO TASERAK
Jalo (jala) adalah sejenis perangkap binatang di air yang terbuat dari rajutan benang, biasanya digunakan untuk menangkap ikan. Cara memasangkannya dengan merentangkan jalo tersebut dalam air kemudian ditarik ke pinggir sehingga dalam jalo tersebut terdapat ikan dan benda lainnya yang terjerat.
Ukiran motif jalo taserak ini melambangkan adanya garis pemisah antara yang baik dan yang buruk yang perlu kita ketahui dalam kehidupan. Apabila kita mengetahui atau dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan tidak melanggar norma adat dan agama, maka akan selamatlah kita dalam hidup bermasyarakat. Jalo taserak ini melambangkan sistem pemerintahan Datuk Parpatih Nan Sabatang dalam proses mengadili seseorang yang melanggar hukum dengan cara mengumpulkan data dan kemudian dipilah-pilah hingga akhirnya diketahui siapa sebenarnya yang bersalah.
- 17. JAREK TAKAKA
Jarek takaka (jerat terkembang) sejenis perangkap binatang di darat seperti burung, ayam, rusa dan lain-lain. Jarek ada yang terbuat dari benang, kayu atau rotan dengan bentuk dan ukuran yang berbeda sesuai dengan fungsinya. Jarek takaka maksudnya adalah jerat yang sedang terpasang dan biasanya dipasang pada tempat yang sering dilalui oleh binatang yang akan dijerat.
Makna dari ukiran jarek takaka ini sama dengan jalo taserak yaitu melambangkan adanya garis pemisah antara yang baik dan yang buruk, antara sah dan batil dalam hidup bermasyarakat. Kalau jarek sudah terkembang maka pertanda sudah siap untuk menangkap apa yang lewat didepannya.
Jarek takaka melambangkan sistem pemerintahan Datuk Katumangungan dalam mengadili orang yang bersalah atau melanggar hukum. Motif jarek takaka termasuk pengisi bidang besar.
- 18. SAIK GALAMAI
Galamai sejenis makanan di Minangkabau, terbuat dari beras pulut dengan saka dan santan yang diaduk-aduk hingga menjadi kental. Membuat galamai haruslah dengan teliti sehingga diperoleh hasil yang baik. Kemudian apabila telah matang dipotong-potong berbentuk jajaran genjang yang merupakan ciri khasnya dan dihidang pada piring 4 buah merupakan tanda selamat datang.
Motif saik galamai dalam ukiran Minangkabau mengandung makna kehati-hatian dalam berbuat dan menghadapi berbagai permasalahan supaya tidak bertambah kusut.Motif ini pengisi bidang kecil.
- 19. SALUAK LAKA
Laka adalah alas periuk atau kuali yang terbuat dari jalinan rotan atau lidi enau/kelapa yang dibentuk bundar seperti piring sehingga dapat menyangga periuk agar tidak terguling. Besarnya haruslah sama dengan besarnya penampang periuk yang akan ditahannya. Saluak laka merupakan suatu jalinan yang saling menguatkan dalam membentuk suatu kekuatan sehingga rotan atau lidi yang kecil tersebut menyatu dan menjadi kuat. Dalam kata menyebutkan:
Nan basaluak bak laka
nan bakaik bak gagang
supayo tali nak jan putuih
kaik bakaik nak jan ungkai
Maksud dari kata adat ini adalah bahwa dalam hidup bermasyarakat haruslah tolong menolong sehingga persaudaraan terbina erat, persatuan yang kuat, bila hal ini telah tercapai maka apa yang direncanakan akan terlaksana.Motif saluak laka ini mengungkapkan suatu kekerabatan yang saling berkaitan erat antara yang satu dengan lainnya sehingga membentuk kesatuan yang kuat dalam mencapai tujuan.
- 20. LAPIAH TIGO
Lapiah tigo adalah suatu jalinan yang terdiri atas tiga bagian dan apabila dijalin ketiganya menjadi suatu ikatan yang erat/kuat. Motif ini melambangkan bahwa di Minangkabau dikenal adanya tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin mereka adalah ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai. Ketiganya saling bekerjasama dalam membangun nagari.
- Ninik mamak nan gadang basa batuah, ka pai tampek batanyo ka pulang tampek babarito, bapucuak sabana bulek, basandi sabana padek, bapucuak bulek baurek tunggang. Prinsip kepemimpinannya adalah bapantang kusuik indak salasai, bapantang karuahindak janiah,Ninik mamak tagak dipintu adat.
- Alim ulama adalah fungsional agama dalam masyarakat, suluah bendang dalam nagari, alim ulama tagak dipintu syarak.
- Cerdik pandai adalah orang yang pintar, menguasai ilmu baik ilmu adat, ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Prinsip kepemimpinannya adalah urang cadiak candokio tahu di ereang jo gendeang tahu dikieh kato sampai urang arif bijaksano. Cadiak pandai tagak dipintu ilmu.
Motif lapiah tigo termasuk pengisi bidang kecil.
- 21. SAJAMBA MAKAN
Sajamba makan adalah suasana orang makan secara adat Minangkabau seperti pada upcara perkawinan, pengangkatan penghulu dan lain-lain. Makan bajamba ini memakai piring besar atau dulang dengan duduk berhadapan empat orang. Dengan makan bajamba ini juga kelihatan apakah orang tersebut pandai makan bersama. Motif sajamba makan ini melambangkan adanya suatu aturan dalam melaksanakan suatu pekerjaan.Oleh sebab itu kita harus mengetahui dan mendalami tata cara adat yang merupakan pedoman hidup. Sajamba makan ini termasuk motif pengisi bidang besar.
.




